Neuron Ketawa

By at April 30, 2024

Khalifah Harun Ar Rasyid sangat senang saat melihat anaknya yang 13 tahun, Ma'mun, membaca buku. Khalifah Harun membuka dialog dengan anaknya. Bertanya hal-hal yang sekiranya nyambung dengan buku yang sedang dibaca anaknya itu. Tapi Harun menjadi gusar. Ma'mun bukanlah anak yang akan meneruskan kekhalifahan. Amin, anaknya yang lain, sudah terlanjur dideklarasikan sebagai khalifah berikutnya. Tapi tidak seperti Ma'mun yang watak akademisnya sudah kelihatan, Amin lebih suka nge-gym dan tidak suka belajar.

Saya menjadi tahu bagaimana perasaan Harun saat melihat anaknya mulai suka baca buku diusia 13 tahun, setelah anak saya yang 13 tahun tiba-tiba beli buku dan mulai membaca. Tentu senang. Lebih senang ketimbang saat dia dapat nilai terbaik kelulusan sekolah dasar. Lebih senang ketimbang saat dia dapat juara 4 nasional lomba bikin game komputer. Lebih senang ketimbang saat dia dapat juara 1 lomba pemrograman tingkat provinsi. Pantas saja, Umar bin Khathab sama sekali tidak khawatir akan kemiskinan seseorang. Beliau sangat khawatir terhadap orang yang tidak tahu harus berbuat apa.

Suatu saat saya menanyakan hal-hal yang sekiranya nyambung dengan apa yang dibaca anak saya. "Itu soal cara kerja otak", katanya. "Otak itu punya dua mode. Mode fokus dan mode divergen. Kalau mau selesaikan masalah spesifik, pakailah mode fokus. Kalau buntu, pakai mode divergen. Itu seperti imajinasi yang menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya.". Seusia dia, dulu saya hanya tahu tentang siklus hujan, yang diajarkan oleh Ibu guru hitam manis rambut lurus sebahu.

"Mode fokus itu seperti gali lubang. Semakin dalam kita gali, semakin banyak material informasi yang kita dapat. Tapi materialnya cuma satu jenis, misalnya biji besi gitu. Nah kalau kita mau gali lubang lain, fokus di hal lain, kita sudah punya alat yang kita dapat dari lubang sebelumnya. Menggunakan alat dari penggalian sebelumnya itu ibaratnya mode divergen. Jadi mode divergen itu tidak bisa dipakai kalau lubang-lubang kita sedikit". Saya hanya bisa senyum-senyum, sambil memperjelas analogi yang dia bangun.

Lalu apa lagi? "Cara kerja neuron", katanya. "Jadi setiap kita buat lubang, itu seperti membuat neuron baru dalam otak. Seperti menyimpan data baru dalam otak. Kalau kita sedang mikir, itu berarti antar neuron sedang membuat sambungan buat tukeran data. Semakin banyak neuron yang terhubung, semaki cepet mikirnya. Semakin sering mikir hal yang sama, semakin besar kuat arus data yang mengalir, semakin cepet juga mikirnya".

Obrolan malam ngelantur entah kemana. Tentang bagaimana otak memproses sebuah 'bayangan' tentang sebuah benda. Bagaimana otak menyimpan data 'aroma'. Bagaimana juga otak menyimpan data 'rasa'. Dan seperti biasa, untuk hal yang kami tidak tahu apa-apa, kami cuma bisa ketawa.

Yogyakarta, 30/04/2024

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *